Monday, October 3, 2011

Makalah Pendidikan di Mesir

 BAB I
PENDAHULUAN


Pendidikan merupakan sesuatu hal yang mutlak ada dan harus dipenuhi dalam rangka meningkatkan kualitas hidup masyarakat dimana pendidikan harus bertumpuh pada pemberdayaan semua komponen masyarakat melalui peran sertanya dalam mewujudkan
Sejarah modernisasi pendidikan di Mesir sangat lekat dengan gerakan pembaharuan Islam. Hal ini karenakan, sebagaimana ungkap Esposito, hampir seluruh pelaku-pelakunya adalah tokoh-tokoh pembaharu agama
Dalam makalah ini penulis membahas tentang pendidikan di negara mesir
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Sejarah Pendidikan Di Mesir
Sejarah pendidikan di mesir ditandai dengan kedatangan Napoleon Bonaparte menguasai Mesir sejak tahun 1798 M. Ini merupakan momentum baru bagi sejarah umat Islam, khususnya di Mesir yang menyebabkan bangkitnya kesadaran akan kelemahan dan keterbelakangan mereka. Kehadiran Napoleon Bonaparte di samping membawa pasukan yang kuat, juga membawa para ilmuwan dengan seperangkat peralatan ilmiah untuk mengadakan penelitian.
Hal inilah yang membuka mata para pemikir-pemikir Islam untuk melakukan perubahan meninggalkan keterbelakangan menuju modernisasi di berbagai bidang khususnya bidang pendidikan. Upaya pembaharuan dipelopori oleh Muhammad Ali Pasya, kemudian diikuti oleh pemikir-pemikir lainnya.
Tokoh-Tokoh Pembaharuan Pendidikan Di Mesir
1.    Muhammad Ali Pasya
Beliau adalah seorang keturunan Turki, lahir di Kawalla Yunani pada tahun 1765 M., meninggal di Mesir pada tahun 1849 M. Sejak kecil ia membantu orang tuanya mencari nafkah sehingga tidak sempat masuk sekolah. Karena kecakapannya, beliau dipercaya oleh Gubernur Usmani dan kemudian masuk Dinas Militer dan berhasil menjadi perwira.
Setelah ekspedisi Napoleon Bonaparte, muncul dua kekuatan besar di Mesir yakni kubu Khursyid Pasya dan kubu Mamluk. Muhammad Ali mengadu domba kedua kubu tersebut, dan akhirnya berhasil menguasai Mesir. Rakyat semakin simpati dan mengangkatnya sebagai wali di Mesir.
Posisi inilah kemudian memungkinkan beliau melakukan perobahan yang berguna bagi masyarakat Mesir.
2.    Al-Tahtawi
Nama lengkapnya adalah Rifa’ah Badwi Rafi’, lahir pada tahun 1801 M. di Thahtha, dan meniggal di Kairo pada tahun 1873 M. Ketika berumur 16 tahun, ia pergi ke Kairo dan belajar di         al-Azhar. Karena kepintarannya, ia diutus oleh Muhammad Ali ke Paris guna mendalami bahasa asing dan mempertajam wawasan keagamaan dengan mengkaji teks-teks modern.
Beliau sangat berjasa dalam meningkatkan ilmu pengetahuan di Mesir karena menguasai berbagai bahasa asing dan berhasil mendirikan sekolah penerjemahan dan menjadikan bahasa asing tertentu sebagai pelajaran wajib di sekolah.
3.    Muhammad Abduh
Muhammad Abduh lahir di Mesir pada tahun 1849. ayahnya berasal dari Turki, sedangkan ibunya keturunan Arab.
Abduh adalah salah seorang murid Afgani. Beliau sangat terkenal khususnya dalam bidang pemikiran rasional sehingga digelar New Muttazilah. Namun demikian, beliau tidak ketinggalan dalam bidang pendidikan, bahkan setelah menamatkan studinya di al-Azhar pada tahun 1877, beliau mengajar di berbagai tempat termasuk di almamaternya sendiri.
4.    Rasyid Ridha
Ridha adalah murid Muhammad Abduh yang terdekat. Ia lahir pada tahun 1865 di al-Qalamun (Libanon). Menurut keterangan, ia berasal dari keturunan al-Husain, cucu Nabi saw. Oleh karena itu, ia bergelar “al-Sayyid” di depan namanya.
Rasyid Ridha sangat terkenal bersama dengan Abduh (gurunya) menerbitkan majalah al-Manar  yang kemudian menjadi sebuah tafsir modern yang bernama Tafsir al-Manar.
5.    Jamaluddin al-Afgany
Beliau lahir di As’adabad, dekat kota Kan’an di Kabul Afganistan pada tahun 1813 M. dan meninggal di Istambul pada tahun 1887 M. Nama lengkapnya adalah Sayyid Jamaluddin al-Afgani ibn Safar. Ia adalah keturunan Sayyid Ali al-Turmudzi. Jika ditelusuri keturunannya, maka berasal dari Husain ibn Ali ibn Abi Thalib. Hal ini tercermin dari gelar Sayyid yang disandangnya.
Afgany terkenal sebagai muballig kondang dan suka berpindah dari satu daerah ke daerah lainnya untuk membangkitkan semangat umat Islam untuk bangkit melawan penjajah Barat secara bersatu. Salah satu idenya yang sangat terkenal adalah Pan Islamisme. Oleh karena itu, beliau lebih dikenal sebagai tokoh pembaharu di bidang politik dibandingkan pembaharu di bidang pendidikan.
6.    Ali Mubarak
Beliau lahir di Bamabal, sebuah desa di Delta Sungai Nil pada tahun 1823 M. dan meninggal di Kairo pada tahun 1893 M.
Beliau dipandang sebagai pelopor pendidikan modern di Mesir, karena mampu memadukan antara pendidikan yang berazaskan Islam dengan pendidikan Barat yang diperolehnya ketika belajar di Prancis.
7.    Thaha Husain
Ia lahir di Magagah Masir pada tahun 1889 M. dan wafat pada tahun 1973 M. Sejak umur 6 tahun beliau menderita penyakit Opthalmiah, yang menyebabkan kebutaan sepanjang hidupnya. Namun demikian, tidak terhalang menuntut ilmu pengetahuan.
Beliau sangat berhasil dalam bidang pendidikan. Terbukti setelah selesai di al-Azhar, kemudian ke Prancis untuk memperdalam ilmu pengetahuannya. Dan sekembalinya di Mesir, beliau diangkat menjadi pejabat penting dalam pemerintahan khususnya dalam urusan kementerian pendidikan.
B.    Tujuan Pendidikan Di Mesir

•    Menyiapkan dan mengembangkan warga Mesir dengan cara yang akan membantu mereka untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan masyarakat yang berubah modern untuk menghadapi tantangan terbarukan, selain memungkinkan mereka untuk memahami dimensi religius, nasional, dan budaya dari identitas mereka.
•    Memberikan masyarakat dengan warga negara yang telah menguasai keterampilan ilmiah dasar, dengan penekanan khusus pada keterampilan membaca, menulis, berhitung, dan disiplin ilmu-ilmu masa depan (sains, matematika, dan bahasa).
•    Menyediakan warga dengan pengetahuan dasar penting kemampuan analisis, berpikir kritis, keterampilan ilmiah, dan keterampilan pemecahan masalah yang dapat memungkinkan mereka untuk merespon tuntutan terus-menerus dan menyesuaikan diri dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.


C.    Sistem Pendidikan  Di Mesir
Republik ini melaksanakan dua sistem iaitu Sistem Pendidikan Kebangsaan dan Sistem Pendidikan Al-Azhar.
1.    Sistem Pendidikan Kebangsaan
Di bawah sistem ini, persekolahan peringkat rendah dan menengah ditadbir oleh Kementerian Pelajaran dan peringkat persekolahan tinggi ditadbir oleh Kementerian Pelajaran Tinggi. Tempoh pengajian di bawah sistem ini adalah seperti berikut:
1.    Peringkat Rendah (ibtidai) : 6 tahun
2.    Peringkat Men. Rendah (i'dadi) : 3 tahun
3.    Peringkat Men. Atas (thanawi) : 3 tahun
4.    Peringkat Universiti (jamiah) : 4-6 tahun
Terdapat sebelas buah universiti di bawah Sistem Pendidikan Kebangsaan yaitu:
1.    Universiti Kaherah
2.    Universiti Ain Shams
3.    Universiti Al-Menia
4.    Universiti Mansourah
5.    Universiti Helwan
6.    Universiti Terusan Suez
7.    Universiti Iskandariah
8.    Universiti Asyut
9.    Universiti Tanta
10.    Universiti Zaqaziq
11.    Universiti Al-Manoufia

2.    Sistem Pendidikan Al-Azhar
Semua pusat pengajian Al-Azhar dari peringkat rendah hingga peringkat tinggi terletak di bawah pentadbiran Majlis Tertinggi Al-Azhar yang dipengerusikan oleh Syeikh Al-Azhar. Tempoh pengajian di bawah sistem ini adalah seperti berikut:
1.    Peringkat Rendah (ibtidai) : 6 tahun
2.    Peringkat Men Rendah (l'daadi) : 3 tahun
3.    Peringkat Men Atas (thanawi) : 4 tahun
4.    Peringkat Universiti (jami'ah) : 4-6 tahun
Mulai sesi 1992/1993, pihak Universiti Al-Azhar mula menghantar sebahagian pelajar-pelajar Malaysia ke tujuh buah cawangannya di luar Kaherah yaitu Iskandariah, Damanhur, Tanta, Mansourah, Zaqazik, Shibin El-Kom, dan Dumyat.
Pihak universiti ini turut mengadakan fakulti yang berasingan di antara pelajar lelaki dan pelajar perempuan.
Sistem pendidikan Mesir, baik sekolah negeri maupun Al-Azhar, dan pendidikan swasta lainnya, memang mewajibkan pelajar Muslim untuk menghafal Al-Quran. Selain itu, pengajian di mesjid-mesjid bagi jamaah, khususnya anak-anak sekolah juga berperan penting untuk mendorong warga menghafal Al-Quran, kata Menteri Zakzouk, yang juga mantan dekan fakultas teologi Universitas Al-Azhar tersebut.
Sistem pendidikan di Mesir, sejak taman kanak-kanak sudah diwajibkan menghafal Al-Quran. Di Universitas Al-Azhar, misalnya, bagi mahasiswa Mesir program S-1 diwajibkan menghafal 15 juz (setengah) Al-Quran, program S-2 diwajibkan menghafal seluruh Al-Quran. Adapun program S-3, tinggal diuji hafalan sebelumnya
Kewajiban hafal Al-Quran ini tidak berlaku bagi mahasiswa asing non-Arab, di mana program S-1 diringankan, yaitu hanya diwajibkan hafal delapan juz Al-Quran, dan program S-2 sebanyak 15 juz Al-Quran, sementara program S-3 baru diwajibkan hafal seluruh Al-Quran.
Sementara itu, Pemerintah Mesir dilaporkan setiap tahun mengalokasikan dana khusus sebesar 25 juta dolar AS (1,2 miliar pound Mesir) untuk penghargaan bagi penghafal Al-Quran. Penghargaan itu diberikan setiap peringatan hari-hari Besar Islam bagi pemenang hifzul (penghafal) Al-Quran, berupa uang tunai maupun dalam bentuk beasiswa dan tunjangan hidup.
Sudah menjadi tradisi di negeri Seribu Menara itu, perlombaan hafal Al-Quran di setiap hari-hari besar Islam dilakukan secara serentak dari tingkat pusat hingga ke daerah-daerah.
Pada peringatan Lailatul Qadar pekan depan di Kairo yang diadakan Kementerian Waqaf, Presiden Mesir Hosni Mubarak dijadwalkan akan menyerahkan penghargaan kepada para pemenang musabaqah hifzil Quran (MHQ) tingkat nasional dan internasional
Di Mesir, perlombaan hafal Al-Quran atau, musabaqah hifzil Quran memang lebih menonjol, ketimbang musabaqah tilawatil Quran (MTQ) yang mengutamakan bacaan, suara, dan lagu.



D.    ISU PENDIDIKAN DI MESIR
Menteri Pendidikan Mesir Ahmed Zaki Badr mengumumkan rencana perubahan kurikulum pendidikan agama dari tingkat sekolah dasar sampai sekolah menengah atas, mulai tahun akademik 2011/2012.
Menteri pendidikan Mesir dalam sebuah konferensi pers bersama Prof. Dr Ali Gomaa, Mufti Republik Mesir, pada Senin (2010/04/27) di kantor Dewan Pendidikan menyatakan bahwa proses perubahan buku-buku agama Islam dimaksudkan untuk "pemurnian" kurikulum agama dari ide-ide yang dapat dipahami memusuhi pihak lain dan mengisolasi diri dari masyarakat.
Badr menekankan bahwa perubahan tersebut akan tunduk pada standar pendidikan Mesir, bukan asing.
Dia juga menekankan bahwa panitia bersama antara Departemen Pendidikan dan Daar al-Ifta' akan mengembangkan buku untuk siswa dan buku untuk materi pelatihan para guru yang akan mengajarkan kurikulum baru ini.
Badr juga mengungkapkan bahwa kementerian pendidikan akan menetapkan sebuah mata pelajaran baru, yakni Pendidikan Etika.
Dia juga menyatakan bahwa Mufti akan bertugas mengembangkan kurikulum mata pelajaran baru tersebut.Kriteria yang ditetapkan Mufti wajib ditaati Kementerian Pendidikan dalam proses pengembangannya.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Sejarah pendidikan di mesir ditandai dengan kedatangan Napoleon Bonaparte menguasai Mesir sejak tahun 1798 M. Kehadiran Napoleon Bonaparte di samping membawa pasukan yang kuat, juga membawa para ilmuwan dengan seperangkat peralatan ilmiah untuk mengadakan penelitian.
Tokoh pembaharuan pendidikan di mesir adalah: Muhammad Ali Pasya, At Tahtawi, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, Jamaludin Al Afgani, Ali Mubarak, Thaha Husien
Tujuan pendidikan di Mesir adalah Menyiapkan dan mengembangkan warga Mesir dengan cara yang akan membantu mereka untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan masyarakat yang berubah modern untuk menghadapi tantangan terbarukan, selain memungkinkan mereka untuk memahami dimensi religius, nasional, dan budaya dari identitas mereka. Sistem pendidikan di mesir mempunyai 2 sistem yaitu Kebangsaan Dan Al-Azhar

No comments:

Post a Comment

Post a Comment